PEMBIBITAN
CABAI RAWIT (Capsicum frutescens) DI
UPT KELOMPOK TANI SUMBER MULYA DESA
LARANGAN PERRENG SUMENEP – JAWA TIMUR
KULIAH
KERJA PROFESI

Oleh :
ABU YAMIN
NPM : 0925010026
FAKULTAS PERTANIAN
AGROTEKNOLOGI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN
NASIONAL “VETERAN”
JAWA TIMUR
2013
Judul KKP : PEMBIBITAN
CABAI RAWIT(Capsicum
frutescens) DI
UPT KELOMPOK TANI SUMBER MULYA DESA LARANGAN PERRENG SUMENEP – JAWA TIMUR
Nama Mahasiswa :
ABU YAMIN
NPM :
0925010026
Program
Studi : AGROTEKNOLOGI
Menyetujui
Dosen Pembimbing
Dr. Ir.
Wuwut Guntoro, MSi
NIP. 19620524 199003 1001
Ketua Program Studi
Agroteknologi
Ir. Mulyadi , MS
NIP. 19530503 198503 1001
ABU YAMIN ( 0925010026 ), PEMBIBITAN CABAI RAWIT (Capsicum Frutescens) DI UPT KELOMPOK TANI SUMBER MULYA DESA LARANGAN
PERRENG SUMENEP JAWA TIMUR.
DOSEN PEMBIMBING : Dr. Ir. WUWUT GUNTORO, MSi
Ringkasan
Cabai rawit (Capsicum Frutescens) termasuk
tanaman dikutil (Biji Berkeping Dua) dan berakar tunggang. Akar menyebar hingga
sejauh 40 cm, tetapi dangkal. Akar-akar rambut banyak berada di permukaan.
Akarnya mendatar cepat berkembang, menyebar dengan kedalaman 15 cm. ujung akar
tunggang dapat menembus tanah hingga kedalaman 50 cm, mudah di tanam dimana
saja, baik di dataran tinggi maupun rendah, tanpa banyak perawatan. Derajat
keasaman (pH) tanah yang paling tepat untuk tanaman cabai rawit berkisar antara
5-7. Apabila pH kemampuan penyerapan beberapa unsur hara berkurang.miskipun
tanaman dapat hidup, tetapi produksi buahnya terganggu.demikian juga bila pH
tanah terlalu tinggi, di atas 7, tanaman akan kerdil karena kekurangan zat
besi. Persiapan lahan dan pembuatan bedengan, pembibitan di
lakukan dengan cara ditebar. Pemeliharaan meliputi pengairan , pengendalian
OPT,pemupukan sanitasi tanaman.
Dalam melaksanakan kuliah kerja profesi memiliki tujuan yaitu
mengetahui secara langsung dan memahami cara pembibitan, budidaya dan
pemeliharaan cabai rawit di kebun UPT
kelompok tani sumber mulya desa larangan perreng dibawa naungan pemerintah
kabupaten sumenep dinas pertanian tanaman pangan.
Kuliah kerja profesi
dilasaksanakan di UPT kelompok tani sumber mulya desa larangan perreng yang
dibina oleh dinas pertanian tanaman pangan sumenep pada 21 pebruari s/d 2 maret
2012. Metode pengambilan data kuliah kerja profesi menggunakan 2 metode yaitu
pengambilan data primer dan pengambilan data sekunder. Kuliah kerja profesi di
peroleh hasil dan pembahasan yaitu pengolahan lahan yaitu dengan cara melakukan
pengemburan dan pembuatan bedengan. Tahap-Tahap pengemburan yaitu pertama
dengan menggunakan traktor roda 2,dan kedua membuat bedengan dengan cara mannual yaitu dicangkul. Ukuran
bedengan panjang 4m dan lebar 1m,tinggi bedengan sekitar 25cm. Pemupukan
dilakukan dua kali yaitu pemupukan dasar yang digunaka pada pengolahan lahan,
dan pemupukan susulan yaitu setelah
bibit cabai rawit berumur 1 minggu dari perkecambahan, pupuk yang digunakan
yaitu kotoran sapi sebagaipupuk dasar yang di campur dengan pupuk NPK dengan
takaran 1:5.untuk pemupukan susulan cukup dengan pupuk NPK dengan takaran
100g/bedengan dilarutkan ke air. Pemeliharaan meliputi penyiraman dengan
menggunakan gembur, pengendalian OPT dengan menggunakan fungisida, sanitasi
tanaman di lakukan dengan cara manual yaitu mencabuti rumbut atau tanaman liar
yang tumbuh di sekitar pembibitan. Pemindahan bibit kelahan yaitu apabila bibit
sudah berumur 30 hari atau sudah berdaun 4.
Keyword : Pembibitan CABAI RAWIT di UPT KELOMPOK TANI
SUMBER MULYA larangan perreng, Agroteknologi
KULIAH KERJA
PROFESI
JUDUL
PEMBIBITAN CABAI RAWIT(Capsicum frutescens) DI UPT KELOMPOK TANI SUMBER MULYA DESA LARANGAN
PERRENG SUMENEP – JAWA TIMUR
Dipersiapkan dan
Disusun oleh :
ABU YAMIN
0925010026
Telah di ujikan dihadapan dan
telah diterima oleh Tim Penguji KKP
Program Studi Agrotrknologi
Fakultas Pertanian
Universitas Pembangunan
Nasional “Veteran” Jawa Timur
Pada Tanggal 19 April
2013
Menyetujui :
Dosen Pembimbing, Tim Dosen Penguji :
Dr. Ir. Wuwut Guntoro, MSi 1. F. DERU DEWANTI, SP.
MP
NIP. 19620524 199003 1001
2. Dr. Ir. BAKTI WISNU, W. MP
3. Dra. ENDANG TP, Msi
Mengetahui :
|
|
Judul
KKP : PEMBIBITAN CABAI RAWIT(Capsicum frutescens)
DI UPT KELOMPOK TANI SUMBER MULYA DESA LARANGAN
PERRENG SUMENEP – JAWA TIMUR
Nama Mahasiswa : ABU YAMIN
NPM : 0925010026
Program Studi : AGROTEKNOLOGI
Menyetujui,
DOSEN PEMBIMBING
Dr. Ir. Wuwut Guntoro, MSi
NIP. 19620524 199003 1001
Mengetahui,
KETUA PROGRAM
STUDI
AGROTEKNOLOGI
Ir. MULYADI,MS
NIP. 19530503 198503
1001
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kehadirah
Allah SWT. Atas segala rahmat dan petunjukNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
laporan Kuliah kerja profesi (KKP), yang berjudul “ PEMBIBITAN CABAI RAWIT (Capsicum frutescens) DI UPTD KELOMPOK TANI SUMBER MULYA SUMENEP JAWA TIMUR “. Laporan
ini tersusun berdasarkan hasil Kuliah Kerja Profesi ( KKP ) Di UPT Kelompok
Tani Sumber Mulya Dinas pertanian Sumenep Jawa Timur pada tanggal 09 Februari
2012 sampai 29 Februari 2012. Laporan Kuliah Kerja Profesi ini merupakan salah
satu tugas dalam rangka menyelesaikan program SI di Jurusan Agroteknologi
Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
Dalam menyelesaikan
laporan ini penulis banyak mendapatkan masukan dan kritikan dari banyak pihak sebagai
proses untuk menuju kearah yang lebih baik, oleh karena itu penulis mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada bapak Dr. Ir. Wuwut Guntoro, MSi selaku Dosen pembimbing yang
telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penulisan laporan ini, juga tidak
lupa mengucapkan terimakasih kepada:
1.
Kedua
orang tua yang telah memberi dorongan, semangat, do’a, dan kasih sayang.
2.
Pengurus
LP2D sebagai pembuka jalan kuliah sampai saat ini.
3.
Ir.
Mulyadi, MS. Selaku Ketua Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian UPN “
Veteran “ Jawa Timur, Surabaya.
4.
Dr.
Ir. Ramdam Hidayat, MS. Selaku Dekan Fakultas Pertanian UPN “ Veteran “ Jawa
Timur, Surabaya.
5.
F.
Deru Dewanti, MP yang selalu memberi kesemangatan kepada penulis.
6.
Teman
– teman senasib dan seperjuangan jurusan Agroteknologi.
7.
Semua
Para staf kepegawaian/karyawan Dinas Pertanian di Kabupaten Sumenep. yang
berkenan memfasilitasi penulis dalam kegiatan Kuliah Kerja Profesi (KKP) ini.
8.
Dan
Kelompok Tani Sumber Mulya yang telah banyak membantu dalam Kegiatan Kuliah
Kerja Profesi ( KKP ) ini.
Kuliah Kerja Profesi ( KKP
) ini masih jauh dari sempurna karena terbatasnya kemampuan dan pengetahuan
yang dimiliki, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya
membangun dari semua pihak.
Maka penulis berharap semoga
laporan ini dapat memberikan sesuatu yang berguna bagi penulis pada khususnya
serta bagi para pembaca pada umumnya.
Surabaya, April 2013
Penulis
Halaman
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................ ........ i
DAFTAR ISI.......................................................................................... ........ iii
DAFTAR GAMBAR.............................................................................. ........ vi
DAFTAR TABEL.................................................................................. ........ vii
I.
PENDAHULUAN
A......... Latar
Belakang.............................................................. ........ 1
B......... Tujuan Kuliah Kerja Profesi.......................................... ........ 2
C........ Manfaat
Kuliah Kerja Profesi......................................... ........ 2
II......... TINJAUAN PUSTAKA
A........... Sistematika Tanaman Cabe Rawit ........................... ........ 3
B........... Botani Tanaman Cabai Rawit..................................... ........ 3
1. Akar..................................................................... ........ 4
2. Batang.......................................................................... 4
3. Daun................................................................... ........ 4
4. Bunga........................................................................... 4
5. Buah............................................................................. 4
6. Biji................................................................................. 5
C........... Syarat Tumbuh.................................................................... 5
1. Iklim............................................................................... 5
2. Tanah............................................................................ 5
3. Ketinggian
Tempat........................................................ 6
4. Suhu.............................................................................. 6
Halaman
D. Pembibitan.................................................................. ........ 6
1. Persyaratan Benih........................................................ 6
2. Penyiapan
Benih........................................................... 7
3. Media tanam................................................................. 7
3. Tehnik Penyemaian Benih............................................ 8
a. Pembibitan............................................................. 8
b. Persiapan Penyemaian......................................... 8
c. Sistem Sebar......................................................... 9
d. Pengairan............................................................... 9
e. Penggunaan Mulsa................................................ 9
f. pemupukan............................................... 9
g.
Sistem Pemindahan Bibit ke Lahan........... .. 10
E. Hama dan Penyakit.............................................................. 10
1. Hama............................................................................ 10
a. Hama
Tanaman Cabai Thrips. ............................ 10
b. Lalat buah (dacus ferrugineus).............................. 10
c. Ulat tanah
(agrotis ipsilon)..................................... 11
d. Ulat grayak (s. litura).............................................. 11
e. Hama tungau atau mute........................................ 12
f, Kutu daun (m. persice).......................................... 12
g. Nematoda puru
akar..................................... ........ 13
h. Hama pengisap daun (t. palmi)............................. 13
2. Penyakit........................................................................ 14
a. Layu Bakteri (Rastona Solanacearum)............... 14
b. Layu cendawan sclerotium rolfii ......................... 14
c. Rebah
semai(dumping off).................................. 14
d. Penyakit anthracnose
buah.................................. 15
III. KEADAAN UMUM DAERAH
A.
Letak dan Luas Wilayah.............................................................. 16
B.
Keadaan Iklim.............................................................................. 16
C.
Struktur Organisasi...................................................................... 17
IV. PELAKSANAAN KULIAH KERJA PROFESI
A.
Tempat Dan Waktu Kuliah Kerja Profesi..................................... 18
B.
Metode Pelaksanaan.................................................................... 18
C.
Pelaksanaan Pembibitan Cabe Rawit ........................... ........ 18
1.
Persiapan Benih..................................................................... 19
2.
Pengolahan Lahan................................................................. 20
3.
Penaburan Benih................................................................... 21
4.
Pemeliharaan......................................................................... 21
a.
Penyiraman............................................................. 21
b.
Pemupukan............................................................. 21
c.
Penyemprotan
Insektisida...................................... 22
d.
Penyiangan............................................................. 22
5.
Senitasi
tanaman .................................................................. 22
V. HASIL
DAN PEMBAHASAN............................................................... 24
VI. KESIMPULAN DAN SARAN............................................................... 27
A.
Kesimpulan......................................................................... ........ 27
B.
Saran ........ 27
DAFTAR
PUSTAKA ........ 28
LAMPIRAN ........ 29
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Teks
a.
Gamabar Struktur Organisasi........................................................... 17
b.
Gambar Pemeliharaan Buah Cabe Dan Waktu Di Jemur................ 19
c.
Gambar Pengolahan Lahan Bedengan ............................................ 20
d.
Pengendalian
Hama dan Penyakit..................................................... 23
e.
Gambar
peta lokasi KKP................................................................... 31
DAFATAR
TABEL
Halaman
Lampiran
1.
Data
Bulan Basah, Bulan Sedang, Bulan Kering............................. 28
2.
Klasifikasi
Iklim Menurut Sistem Schmidt Ferguson........................ 29
3.
Surat
Keterangan Kuliah Kerja Profesi............................................
I. PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Tanaman
Cabai rawit ( Capsicum frutescens ) berasal dari (Meksiko, Amerika Tengah dan
Pegunungan Andes di Amerika Selatan, Eropa dan Asia termasuk Negara Indonesia
). Penyebab rasa pedas pada cabai adalah capsaicin yang bervariasi menurut
varietas dan dipengaruhi iklim. Cuaca panas merangsang cabai menjadi lebih
pedas. Suhu yang terlalu tinggi tapi kelembaban rendah mengakibatkan bunga dan
buah rontok. Suhu yang sesuai adalah 18-27°C. Pada curah hujan tinggi bunga
akan mudah gugur. ( Wulandari, 2012 )
Cabai
rawit ( capsicum
frutescens ) dapat tumbuh baik didataran tinggi maupu di dataran rendah, cabe
rawit merupakan tanaman perdu dari
famili terong-terongan ( Solanaceae ) yang memiliki nama ilmiah ( Capsicum Frutescens). Cabai rawit pada tahun 2010 di daerah Sumenep
peringkat termahal sepanjang sejarah harga, bahkan bertahan sampai hampir dua
bulanan. Kondisi ini amat terpengaruh terhadap permintaan bibit cabai rawit
melonjak naik dengan tajamnya. Seiring tingginya permintaan bibit cabai rawit
di daerah Sumenep, hal ini tentu memberi peluang bagi tumbuh kembangnya usaha
penangkaran pembibitan. Di beberapa daerah Madura sudah menjadi peluang usaha
yang menjanjikan, seperti di wilayah Sumenep. ( Endang. 2011)
Penambahan dan pengurangan
luas areal tanaman dan produksi cabai rawit di
Sumenep dalam kurun waktu tertentu. Informasi yang
digunakan adalah data sekunder dari Biro Pusat Statistik jawa timur tahun 2008 dan 2009. Dengan membandingkan
komoditas pertanian antara tahun 2008
hingga 2009,
maka akan nampak potensi yang mampu dikembangkan oleh pemerintah melalui
berbagai kebijakan strategis sektor pertanian. Komoditas pertanian yang akan
dianalisis meliputi tanaman hortikultura
termasuk tanaman cabai rawit mempunyai nilai strategis
dari segi peranannya sebagai bahan sayuran,
bahan baku industri atau sumber pendapatan bagi masyarakat petani. Analisis
potensi komoditas tanaman cabai rawit
di jawa timur berdasarkan perubahan produksi di setiap tahunnya. (Anonym,2010)
B. Tujuan Kuliah Profesi
1.
Mempelajari
teknik pembibitan Cabai
rawit secara langsung yang dilakukan di kelompok tani Sumber Mulya di larangan
perreng pragaan sumenep.
2.
Menambah
pengalaman dan teknologi (IPTEK) dalam bentuk nyata di lapangan.
C. Manfaat
a. Mengetahui
secara langsung teknik pembibitan cabai rawit dengan teknologi dan permasalahan pada pembibitan tersebut
beserta penanganannya di kelompok tani Sumber Mulya
b. Menambah
wawasan atau pengetahuan baru mengenai pembibitan Cabai Rawit.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Sistematika
Tanaman Cabe Rawit
(Capsicum frustescens L.)
Cabai
rawit (capsicum frustescens L.)
tergolong dalam famili terung-terungan (Solanaceae).
Tanaman ini termasuk golongan tanaman semusim atau tanaman berumur pendek yang
tumbuh sebagai perdu/semak, dengan tinggi tanaman dapat mencapai 1,5 m (Wulandari, 2012)
Dalam taksonomi tumbuh-tumbuhan, tanaman cabe rawit di
masukkan ke dalam klasifikasi sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)
Subdivisi : Angiospermae (biji berada dalam buah)
Kelas : Dicotyledoneae (biji berkeping dua/biji belah)
Ordo (bangsa) : Corolliforea
Famili (suku) : Solanaceae
Genus (marga): Capsium
Spesies : Capsium frustescens L. ( Anonym, 2009 )
B. Botani tanaman
Cabai rawit (Capsicum frutescens)
Cabai Rawit (Capsicum Frutescens) termasuk tanaman yang mudah di tanam dimana
saja, baik di dataran tinggi maupun rendah, tanpa banyak perawatan. Tanaman
cabai rawit termasuk yang berumur panjang, bisa mencapai tahunan. Cabai rawit
termasuk tanaman dikutil (Biji Berkeping Dua) dan berakar tunggang. Akar
menyebar hingga sejauh 40 cm, tetapi dangkal. Akar-akar rambut banyak berada di
permukaan. Akarnya mendatar cepat berkembang, menyebar dengan kedalaman 15 cm.
ujung akar tunggang dapat menembus tanah hingga kedalaman 50 cm ( Prajnata,1998
)
1. Akar
Perakaran
cabai rawit terdiri atas akar tunggang yang tumbuh lurus ke pusat bumi dan akar
serabut yang tumbuh menyebar ke samping. Perakaran tanaman tidak dalam sehingga
tanaman hanya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada tanah yang gembur,
porous ( mudah
menyerap air )
dan subur (Wulandari, 2012 ).
2.
Batang
Batang tanaman berbentuk bulat, tegak dengan tinggi
50-150 cm. Batang hanya sedikit mengandung zat kayu sehingga tidak kuat berdiri
tegak saat lebat buahnya (Prajnata, 1998)
3.
Daun
Daun cabai rawit berwarna hijau, ukuran daun termasuk
kecil dan berbulu halus pada permukaannya. Bentuk daun menyerupai hati yang
beruncing pada ujungnya. Panjang daun sekitar 4-6 cm dan lebar 2-3 cm (Prihmantoro,1995).
4.
Bunga
Bunga berdiri tegak pada ketiak
daun,berwarna putih bersih,berbentuk bintang. Satu kuntum bunga terdiri dari
5-6 helai kelopak bunga.pada setiap ketiak daun umumnya tumbuh dua tangkai
buna. Setelah mekar penuh, bunga cabai rawit berukuran lebar sekitar 1,5
cm.setelah terjadi pembuahan bungan akan layu dan kebanyakan hanya 1 bunga yang
menjadi buah (Haryato. 1998)
5.
Buah
Buah
cabai rawit memiliki ukuran sekisar antara 1-4 cm dengan lebar 0,5-1,2 cm. buah
cabai mengandung oleoresin yang pedas rasanya. Setiap buah berisi banyak biji.
Biji cabai berkeping dua (dikotil) dan berfungsi sebagai alat perkembangbiakan
tanaman secara generative. (Prajnata, 1998.)
6.
Biji
Biji cabai rawit berwarna putih
kekuningan-kuningan, berbentuk bulat pipih, tersusun berkelompok (bergerombol)
dan saling melekat pada empulur. Ukuran biji cabai rawit lebih kecil
dibandingkan dengan biji cabai besar. Biji-biji ini dapat digunakan dalam
perbanyakan tanaman (perkembangbiakan) (Prihmantoro,1995)
C . Syarat pertumbuhan
1. Iklim
Menurut Prihmantoro, H (1995), Bertanam
Cabai pada musim kemarau merupakan tanaman yang mudah beradaptasi dengan
lingkungan di daerah tropis,baik ketinggian tempat maupun keadaan tanah. Oleh karena itu, cabai rawit
dapat di kembangkan hampir di seluruh kawasan nusantara. Tanaman ini dapat
tumbuh dan berpruduksi dengan baik di dataran rendah, menengah, dataran tinggi.
Ketinggian lokasi yang paling baik untuk tanaman cabai adalah antara 200-700 meter
di atas permukaan laut (Prihmantoro,1995)
2. Tanah
Kesuburan tanah mempunyai peran penting
dalam penanaman cabai rawit. Di samping sebagai penopang berdirinya tanaman,
tanah juga berfungsi sebagai penyediaan makanan,air, dan udara untuk pernafasan
akar. Tanah yang basah tetapi tidak tergenang air, berpasir, subur, dan kaya
akan bahan organic sangat cocok untuk pertumbuhan tanaman cabai. Syarat lainnya
tanah harus memiliki aerasi dan drainase yang baik.(Anonym, 2012)
Tanaman
cabai rawit selain membutuhkan air juga juga membutuhkan sinar matahari yang
cukup. Maka lokasi yang tepat untuk tanaman cabai adalah lokasi yang terbuka,
cukup kandungan airnya, subur, dan mempunyai penyerapan air cukup baik.oleh
sebab itu pembibitan tanaman cabai dala polibag sebaiknya di tempatkan di
tempat terbuka agar memproleh sinar matahari yang memadai, terutama sinar
matahari pagi.( Prajnata,1998 )
Derajat keasaman (pH) tanah yang paling tepat untuk
tanaman cabai rawit berkisar antara 5-7. Apabila pH kemampuan penyerapan
beberapa unsur hara berkurang.miskipun tanaman dapat hidup, tetapi produksi
buahnya terganggu.demikian juga bila pH tanah terlalu tinggi, di atas 7,
tanaman akan kerdil karena kekurangan zat besi ( Prihmantoro,1995).
3. Ketinggian Tempat
Cabai
rawit mampu beradaptasi dengan baik di
dataran rendah maupun tinggi. Ketinggian yang optimal 400-800 m dpl.(Mashud,
2004)
4. Suhu
Namun tanaman cabai mempunyai persyaratan khusus dalam
hal suhu udara. Pertumbuhan cabai akan terhambat jika suhu udara di bawa 16ºC.
Demikian pula jika suhu lokasi di atas 32º C, proses pembungaan cabai akan
gagal dan bunga akan rontok ( Pitoyo,2007 ).
D. Pembibitan
1.
Persyaratan Benih
Benih yang
dipergunakan untuk pembibitan hendak memenuhi persyaratan agar nanti dapat
menghasilkan bibit yang baik, dan bila nanti ditanam di lapangan dapat
menghasilkan buah yang baik serta produksinya tinggi. Benih yang digunakan
petani biasanya berasal dari dua yaitu benih produksi sendiri dan beli di toko
pertanian sesuai varietas yang diinginkan. Persyaratan benih yang layak
digunakan untuk pembibitan agar bibit tumbuh baik dan dapat berproduksi tinggi
antara lain : benih bebas hama penyakit, biji bernas/ aus, tidak keriput, daya
tumbuh 90%, kemurnian terjamin, biji berwarna kuning bersih hampir mirip warna
buah padi. Sedangkan bila benih dari pabrikan kita tinggal cek varietas yang
ada sesuai jenis dan perhatikan masa berlaku benih atau tanggal kadaluarsa (Prihmantoro,1995).
2. Penyiapan
Benih
Pembibitan Cabe Rawit diawali dengan
pemilihan benih. Pemilihan benih merupakan langkah awal yang sangat penting.
Karena bila kita memilih benih yang tidak baik, tentu saja hasilnya pun tidak
baik pula. Bibit atau benih cabe harus sudah tersedia terlebih dahulu sebelum
kita mulai mengerjakan lahan. Benih cabe rawit dapat diperoleh dari toko
pertanian setempat baik berupa varietas lokal, OP maupun hibrida. Pemilihan benih
lokal, OP maupun hibrida tergantung pada petani itu sendiri. Namun akan lebih
bagus dan lebih prima hasilnya bila kita menggunakan benih hibrida atau OP yang
unggul yang ada dipasaran. Karena menunjukkan bahwa hasil produksi benih
hibrida atau veritas OP yang unggul jauh lebih baik dibandingkan varietas
lokal. Tidak hanya dari hasil saja, keunggulan cabe rawit unggul dan hibrida
dapat dilihat dari vigor, kesaragaman tanaman serta ketahanannya terhadap
penyakit yang menunjukkan hasil yang lebih baik.(Wulandari, 2012)
3. Media Tanam
Media tanam merupakan tempat
hidup dan tumbuhnya tanaman. Media tanam dapat berupa tanah, pasir, sabut, arang, dan sebagainya. Untuk pembibitan
tanaman cabai penulis menggunakan tanah sebagai media tanam utama. Untuk
menyuburkan dan memperbaiki kualitasnya, dan mencampurkan pupuk organik padat
(kompos atau pupuk kandang) sekam atau arang sekam. Media tanam yang akan
diisikan ke bedengan/dalam polibag harus telah memenuhi syarat kebutuha hidup tanaman.
Yakni, harus cukup gembur, mengandung unsure hara dan bebas dari hama dan
penyakit. Karena kondisi tanah di setiap tempat sering kali tidak sama,tanah
perlu diolah sehingga di proleh campuran yang baik sebagai media tanam. Kondisi
pH media tanam juga harus memenuhi syarat untuk pertumbuhan tanaman cabai
rawit, yaitu pada kisaran 5-7. Jika pH media dibawah 5, tambahkan kapur
dolomite atau kalsit. Jumlahnya di sesuaikan dengan kondisi pH tanah.
Sebaliknya, jika pH media tanam diatas 7, netralkan dengan belerang. Derajat
keasaman (pH) tanah dapat di periksa dengan alat pH-meter.namun untuk
memudahkan, bila mengambil tanah untuk media tanam, pilih saja tanah yang di
tumbuhi tanaman dengan baik. (Haryato. 1998)
4. Teknik Penyemaian Benih
a. Pembibitan
Langkah
membuat penyemaian atau pembibitan adalah Persiapan lahan pesemaiannya dengan
syarat lokasi strategis mudah diawasi dekat sumber air, lokasi terbuka (Prihmantoro,1995).
b.
Persiapan Persemaian
Persemaian benih bisa dilakukan
dalam wadah kotak kayu, pot atau baki sesuai yang tersedia di lapangan. Media
tanam yang digunakan untuk penyemaian bisa menggunakan pupuk kandang yang
dicampur dengan pasir atau pasir dengan kompos. Dimana perbandingan volume antara
pasir dan kompos atau pasir dan pupuk kandang adalah 1 : 1. Kebutuhan benih
tiap hektar berkisar 100 - 125 gram. Bedengan persemaian dibuat arah utara -
selatan menghadap ke timur. ( Anonym,
2012)
c. Sistem Sebar
Benih di sebar (ditabur) di
alur kecil yang dibuat di atas media semai dengan jarak antar benih dalam alur
1 cm, sedangkan jarak antar benih dalam alur 1 cm, sedangkan jarak antar alur 5
cm. Tutup benih dengan tanah tipis
(Wulandari,2012)
d. Pengairan
Penyiraman
pada persemaian dengan menggunakan handsprayer untuk menghindari resiko
rusaknya media persemaian akibat siraman air
(Semangun,2012)
e. Penggunaan
Mulsa
Persemaian
diberi naungan atau mulsa
untuk menghindari kontak langsung dengan cahaya matahari. Naungan atau mulsa dapat dibuat dari daun
kelapa, paranet atau ditutup dengan daun pisang. Apabila menggunakan daun
pisang, pada saat akan membuka naungan daun pisang dibuka secara bertahap. Apabila
benih sudah berumur 7 - 10 hari, buka sungkup atau naungan persemaian agar tanaman
mendapatkan sinar matahari guna membantu proses fotosyntesis (Kurnianti,2010)
f. pemupukan
Selain pupuk dasar juga
di perlukan pupuk susulan setiap minggu setelah tumbuh. Peranan pupuk susulan
dapat menggunakan pupuk buatan berupa NPK Grand-S 15 sebagai penunjang pertumbuhan dan perkembngan
dengan
perbandingan
2 : 1. Dosis pupuk yang digunakan kurang lebih 250gram/ bedengan (Kurnianti,
2010 )
g. Sistem
Pemindahan Bibit ke Lahan
Bibit sudah dapat dipindahkan ke lahan apabila sudah berumur 14 -
20 hari. Apabila bibit sudah berumur kurang lebih 30 - 35 hari setelah semai
atau telah mempunyai 5 – 6
helai daun siap untuk dipindahkan ke lapangan (Anonym,2012 )
E.
Hama dan Penyakit
Hama dan penyakit
yang seringkali menyerang cabe rawit adalah lalat buah dan ulat daun, kutu daun
serta penyakit bercak daun (Pitoyo,2007)
1.
Hama
a. Hama Tanaman
Cabai Thrips.
Gejala serangan yang ditimbulkan oleh trips adalah
daun menggulung (mengeriting)ke atas, daun muda yang terserang bernoda
keperak-perakan. Pengendalian hama tanaman cabai dapat dilakukan dengan secara
kultur teknis menggunakan mulsa plastik hitam perak, dan mengatur rotasi
tanaman. Untuk pengendalian kuratif dapat dilakukan dua cara yaitu secara
biologi dengan memanfaatkan musuh alami hama thrips yaitu kumbang
Coccinellidae, tungau predator, kepik Anthocoridae dan kumbang Staphulinidae.
Musuh alami ini sudah ada di alam sekarang tergantung kita untuk
memanfaatkannya. Cara yang kedua adalah dengan penyemprotan pestisida nabati
atau kimia. Secara kimiawi, dengan penyemprotan insektisida secara selektif
agar tidak membunuh musuh alaminya misalnya dengan Mesurol 50 wp, Pegasus 500
sc atau Perfekthion 400 ec, pada waktu sore hari. ( Kurnianti, 2010 )
b. Lalat
Buah (Dacus ferrugineus)
Hama
tanaman cabai Lalat buah (Dacus
ferrugineus). Hama cabai ini berukuran 0,5 cm, berwarna cokelat tua, dan
meletakkan telurnya didalam buah cabai. Buah-buah yang terserang akan menjadi
bercak-bercak bulat, kemudian membusuk. Serangan hama lalat buah ini buah cabai
rusak, busuk dan rontok. Pengendalian dapat dilakukan menggunakan pestisida
nabati atau kimia. Secara kimiawi yaitu dengan memasang perangkap beracun
seperti metil eugenol (CM-Antraktan) atau protein hydrolisat yang efektif
terhadap serangga jantan dan betina.untuk penyemprotan insektisida secara
langsung dengan insektisida berbahan aktif niflutrin, profenofos, dan
frotiofos. Misalnya Buldok, Lannate, atau Tamaron. (Anonym,2012)
c. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon)
Biasa menyerang tanaman cabe yang baru pindah
tanam, yaitu dengan cara memotong batang utama tanaman hingga roboh bahkan bisa
sampai putus. Pengendalian ulat tanah secara mekanis dilakukan dengan
mengumpulkan dan kemudian memusnahkannya. Bila populasi ulat tanah tinggi,
tanaman disemprot dengan insektisida Curacron 500 EC, Desis 2,5 EC. Untuk
tindakan pencegahan dapat dilakukan penyemprotan insektisida Turex WP dengan
konsentrasi 0,25 – 0,5 g/liter bergantian dengan insektisida Direct 25ec dengan
konsentrasi 0,4 cc/liter atau insentisida Raydok 28ec dengan konsentrasi
0,25-0,5 cc/liter sehari sebelum pindah tanam. (Haryato. 1998)
d. Ulat Grayak (S.
litura)
Pada tanaman cabe biasa menyerang daun, buah
dan tanaman yang masih kecil. Untuk tindakan pengendalian dianjurkan menyemprot
pada sore atau malam hari dengan insektisida biologi TurexWP bergantian dengan
insektisida Pentacron 500 EC atau insektisida Posban 200 EC, atau insektisida
yang lainnya.Sex pheromone, yaitu perangkap ngengat (kupu-kupu) jantan. Sex
pheromone merupakan aroma yang dikeluarkan serangga betina dewasa yang dapat
menimbulkan rangsangan sexual (birahi) pada serangga jantan dewasa untuk
menghampiri dan melakukan perkawinan sehingga membuahkan keturunan. Salah satu
jenis sex pheromone yang ada di Indonesia adalah "Ugratas" (buatan
Taiwan) atau Ulat Grayak Berantas Tuntas berwarna "merah" sangat
efektif untuk dijadikan perangkap kupu-kupu dewasa dari ulat grayak (S.
litura). Cara pemasangan Ugratas merah ini adalah dimasukkan ke dalan botol
bekas aqua volume 500 cc yang diberi lubang kecil untuk tempat masuknya
kupu-kupu jantan. Untuk 1 hektar kebun cabai cukup dipasang 5-10 buah Ugratas
merah, dengan cara digantungkan sedikit lebih tinggi di atas tanaman cabai.
Daya tahan (efektivitas) Ugratas ini + 3 minggu, dan tiap malam bekerja efektif
sebagai perangkap ngengat jantan. Keuntungan penggunaan Ugratas ini antara lain
: aman bagi manusia dan ternak, tidak berdampak negatif terhadap lingkungan,
dapat menekan penggunaan insektisida, tidak menimbulkan kekebalan hama, dan
dapat memperlambat perkem-bangan hama tersebut (Prihmantoro,1995)
e. Hama Tungau
atau Mite
Menyerang tanaman cabe hingga daun berwarna
kemerahan, menggulung ke atas, menebal akhirnya rontok. Untuk pengendalian dan
pencegahan semprot dengan akarisida Samite 135EC dengan konsentrasi 0,25 – 0,5
ml / liter air bergantian dengan insektisida Posban 200 EC ( Wulandari,2012 )
f. Kutu Daun (M.persicae)
Kutu daun tanaman Cabai Rawit adalah myzus persiceae. Kutu ini mengisap
cairan tanaman Cabai Rawit terutama pada muda, dan kotoran kutu daun ini berasa
mani sehingga mengundang semut. Serangan parah menyebabkan daun mengalami
klorosis ( kuning ) dan mengguling.Dapat dikendalikan juga dengan menggunakan
pestisida organik seperti pada pengendalian trips diatas. Apabila serangannya
berat dan belum terkendali dengan pestisida organik, tanaman dapat disemprot
dengan insektisida Pentacron 500 EC (
Semangun,2012)
g. Nematoda Puru Akar
Merupakan
organisme pengganggu tanaman yang menyerang daerah perakaran tanaman cabe. Jika
tanaman terserang maka transportasi bahan makanan terhambat dan pertumbuhan
tanaman terganggu. Selain itu kerusakan akibat nematode dapat memudahkan
bakteri masuk dan mengakibatkan layu bakteri. Pencegahan yang efektif adalah
dengan menanam varietas cabe yang tahan terhadap nematode dan melakukan
penggiliran tanaman. Dan apabila lahan yang ditanami merupakan daerah endemi,
pemberian nematisida (Jordan 5 GR, Furadan 3 G atau lainnya) dapat diberikan
bersamaan dengan pemupukan (
Kurnianti,2010 ).
h.
Hama pengisap daun (T.palmi)
Dikendalikan dengan memasang White Trap sebanyak 40
Trap/ha. Selain itu, dapat dikendalikan juga dengan menggunakan pestisida
organik seperti pada pengendalian trips diatas. Apabila serangannya berat dan
belum terkendali dengan pestisida organik, tanaman dapat disemprot dengan
insektisida Pentacron 500 EC (
Pitoyo,2007).
2. Penyakit
a.
Layu Bakteri (Ralstonia Solanacearum)
Penyakit
Ini ditandai dengan daun layu mulai dari pucuk sampai ke bagian bawah. Apabila
batang, cabang, atau pangkal batang dibelah akan terlihat warna cokelat
kehitaman dan busuk. Cabai rawit yang diserang layu bakteri bila dicelupkan ke
dalam airakan mengeluarkan lendir berwarna putih. Serangan dapat menular
melalui air yang tercemar. Penanggulangan layu bakteri dapat menggunakan cara
mencelup bibit cabai rawit ke dalam air yang diberi bakterisida Agrimycin.
Drainase disekitar bedengan diperbaiki agar tidak becek/ berlumpur ( Mashud,
2004)
b. Layu Cendawan (Sclerotium Rolfii S.)
Penyakit ini disebabkan oleh serangan cendawan
yang menyebabkan layu tanaman secara tiba-tiba daun berubah menjadi kuning dan
lama kelamaan berubah menjadi cokelat. Biasanya menyerang leher akar yang
ditandai dengan adanya mycelium berwarna putih. Pengendalian dilakukan dengan
menggunakan perlakuan pemberian kapur pada saat pengolahan tanah, pergiliran
tanaman dan perlakuan tanah dengan Basamid-G ( Wulandari ).
c. Rebah Semai ( Dumping Off ) .
Penyakit ini biasanya menyerang
tanaman saat dipersemaian. Jamur penyebabnya adalah Phytium sp. Untuk tindakan
pencegahan dapat dilakukan perlakuan benih dengan Saromyl 35SD dan menyemprot
fungisida sistemik Kudanil 75 WP saat dipersemaian dan saat pindah tanam ( Semangun,2012).
d. Penyakit Anthracnose Buah
Disebabkan oleh jamur Coletroticum capsii. Penyakit antracnose sering
disebut sebasgai penyakit patek oleh kalangan petani. Gejala awalnya adalah
kulit buah akan tampak mengkilap, selanjutnya akan timbul bercak hitam yang
kemudian meluas dan akhirnya membusuk. Untuk pengendaliannya, ada beberapa hal
yang perlu dilakukan: Sejak awal pertanaman, siapkan lahan dengan baik, pH
netral dan selalu bersih terus menerus selama pertanaman, tidak ada air tergenang
disaluran air kebun (Kurnianti,2010).
BAB
III
KEADAAN
UMUM WILAYAH
A. Letak
dan Luas Daerah
UPTD Pragaan di Sumenep merupakan unit pelaksana
teknis daerah pada Dinas Pertanian yang bertugas melaksanakan sebagian tugas
Dinas Pertanian dalam bidang pembibitan tanaman hortikultura, pembibitan
tanaman cabai rawit.yang selanjutnya kegiatan Kuliah Kerja Profesi di lanjutkan
di kelompok tani Sumber Mulya di desa Larangan Perreng, yang di bina lansung
oleh dinas Pertanian kabupaten Sumenep. Berbatasan dengan desa sebagai berikut:
Sebelah
barat : Kecamatan Bloto dan Saronggi.
Sebelah
Timur : Kecamatan kadur.
Sebelah
Timur : Kabupaten Pamekasan.
Luas wilayah kelompok tani Sumber Mulya Larangan Perreng
Pragaan mencapai 44 ha. (Dinas Pertanian Kabupaten Sumenep, 2012)
B. Keadaan
Ikilm
Keadaan
tani Smber Mulya terletak di desa Larangan Perreng kacamatan Pagaan kabupaten
Sumenep Madura. Kelompok tani Sumber Mulya berada di ketinggian 0 - 500m di atas permukaan laut, yang memiliki Suhu udara
rata-rata antara 26,6°C - 29,4°C, penguapan antara 104,1 mm - 144,26 mm, kecepatan angin antara 13 knot - 22 knot, penyinaran matahari antara 47,4% - 100%, temperatur antara 19,30°C - 32,36°C, kelembaban
52% - 100% dan tekanan udara 1.003,5 mbs - 1.012,85 mbs. Tipe iklim di kelompok tani
Sumber Mulya menurut batasan Scmhidt dan Ferguson memiliki tipe iklim E yaitu
dengan keadaan daerah gak kering. Memiliki perhitungan Q ratio
%. Dengan
rata-rata bulan basah selama 5 tahun, 4.8 bulan
basah, 1 bulan
sedang dan 6.2 bulan
kering (lampiran tabel)
C. Struktur Organisasi
Struktur organisasi UPTD
Balai Pembibitan pada Dinas Pertanian Kabupaten Sumenep
yaitu sebagai berikut :
1.
Sub
bagian tata usaha
2.
Sub
unit pembibitan tanaman Hortikultura
3.
Sub
unit pembibitan tanaman penghijauan
4.
Sub
unit pembibitan tanaman local
Struktur
Organisasi adalah suatu susunan dan hubungan antara tiap bagian serta posisi
yang ada pada suatu organisasi atau perusahaan dalam menjalankan kegiatan
operasional untuk mencapai tujuan agar setiap pegawai mengetahui jabatan,
wewenang yang dimilki oleh setiap pegawai dan ruang lingkup pekerjaan.(Tabel
Lampiran)
Gambar
1. Sruktur Organisasi
IV. PELAKSANAAN KULIAH KERJA PROFESI
A. Tempat
dan Waktu Kuliah Kerja Profesi
Kuliah
Kerja Profesi di laksanakan di kelompok tani Sumber Mulya Larangan Perreng kecamatan Pragaan kabupaten
Sumenep, kelompok tani Sumber Mulya adalah kelompok tani yang di bina langsung
oleh Dinas Pertanian kabupaten Sumenep. pelaksanaan Kuliah Kerja Profesi pada
tanggal 20-29 Februari 2012.
B.
Metode Pelaksanaan
Metode
yang digunakan selama melakukan Kuliah Kerja Profesi yaitu:
a.
Mengikuti
dan mengamati kegiatan para anggota kelompok tani mengenai pembibitan cabe
rawit (Capsicum Frustescens L) di kelompok tani Sumber Mulya.
b.
Pengambilan data dilakukan
dengan wawancara terhadap teknisi lapang.
Wawancara dilakukan untuk mengetahui lebih jelas mengenai pembibitan cabe rawit
yang baik dalam segi pembibitan di lahan atau di lapang
c.
Pengambilan
data sekunder berupa keadaan umum daerah dan curah hujan, referensi, literatur yang
berguna sebagai masukan dan pelengkap.
d.
Pengambilan
data juga di lakukan di berbagai pustaka yang bertujuan untuk membandingkan
teori yang terdapat diliteratur dengan keadaan yang nyata di lapang.
C.
Pelaksanaan Pembibitan Cabe Rawit (Capsicum
Frustescens L)
Pembibitan cabe rawit (Capsicum Frustescens L) yang di lakukan di kelompok tani Sumber
Mulya yaitu pembibitan dengan menggunakan bedengan dan benih milik sendiri di
ambil dari hasil budidaya. Kegiatan yang di lakukan meliputi :
1.
Persiapan
Benih
Pemeliharaan buah cabe yang akan
dijadikan benih pembibitan,buah cabe di pelihara sampai benar-benar tua,warna
merah dan sehat tidak terserang oleh hama atau penyakit, buah cabe yang sudah
tua di petik dan dikumpulkan terus di keringkan atau di jemur keterik matahari,
Agar cabai keringnya merata maka bisa
diubah letak, misal yang atas di pindah ke bawah demikian
sebaliknya.

Gambar 2. Pemeliharaan buah cabe dan
waktu di jemur.
2. Pengolahan
Lahan
Tanaman cabe merupakan tanaman yang
mudah untuk di budidayakan atau di lakukan pembibitan di banding dengan tanaman
sayuran lain, tanaman cabe harus mendapatkan perlakuan khusus agar di didalam
pembibitannya dapat tumbuh dengan baik. Oleh karena itu pembibitan cabe rawit
yang dilakukan di kelompok tani Sumber Mulya di dalam pengolahan lahan harus
bersih dari segala macam gulma dan akar – akar tanaman lain.Alat yang di
gunakan antara lain :
1. Traktor untuk pengolahan pertama
dalam petak agar lahan
bersih dan memudahkan perakaran tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan
inang bagi hama dan penyakit yang mungkin ada.
2.
Cangkul digunakan untuk membuat bedengan setelah petak
di bajak atau di balik ,panjang bedengan 4m lebarnya 1m dan tinggi sekitar 25cm.
3. Kotoran sapi sebagai
pupuk dasar yang di campur dengan pupuk buatan yaitu NPK dengan takaran 1:5. Pupuk
dasar ini di letakkan dipermukaan bedengan sampai rata.

Gambar
3.Pengolahan bedengan
3. Penaburan Benih
Sebelum benih di tabur
bedengan di siram dulu cara penyiramannya tidak terlalu banyak yang penting
permukaan tanah atau bedengan merata,setelah itu benih yang di siapkan sudah
tercampur pasir dan kemudian ditabur secara merata di permukaan bedengan. Dan
setelah di tabur merata tambah sedikit pasir lagi untuk menutupi benih yang
belum tertutup pasir,setelah itu disiram lagi dengan gembur secara pela-pelan
dan jarak gembur dari permukaan bedengan kurang lebih 20 cm.
4
. Pemeliharaan
Pemeliharaan
adalah hal yang sangat penting karena berpengaruh
terhadap hasil yang akan di dapat. Pemeliharaan pembibitan cabai rawit di
klelompok tani sumber mulya yaitu ;
a. Penyiraman
Secara rutin pada pagi hari dan
sore hari sesuai kebutuhan bibit di lapangan. Karena kebutuhan air pada setiap
daerah pasti berbeda, perbandingan dari beberapa leteratur dengan daerah
sumenap sangat berbeda, karena daerah sumenap madura cuacanya panas sehingga
penyiraman harus dua kali dalam satu hari.
b. Pemupukan
Bibit Cabai Rawit akan di pupuk
setiap minggu setelah berumur satu minggu dari perkecambahan. Pupuk yang
dipakai sebagai pupuk susulan adalah NPK dengan takaran 100ml/1Lt air dengan
cara dilarutkan. Pembibitan di UPT kelompok tani Larangan Perreng Pragaan
dengan takaran sedikit karena bibit cabai kalau kebanyakan pupuk pertumbuhan
bisa kurang baik atau batang bibit panjang, jika pada bibit di pindah kelahan
lama untuk memulihkan beradaptasi biasanya mengalami layu.
c. Penyemprotan Insektisida
Hama yang mengganggu bibit Cabai
rawit di semprot dengan Insektisida. Sistem penyemprota di UPT Kelompok Tani
Sumber Mulya memakai Insektisida Decis , karena lebih cepat untuk mengatasi
serangan hama.
d. Penyiangan
Dalam pembibitan
cabai rawit di perlukan penyiangan untuk membuang semua jenis tanaman
pengganggu ( Gulma ) yang hidup di sekitar bibit Cabai Rawit.
5
. Sanitasi tanaman
Kegiatan sanitasi di
lakukan agar bibit cabe rawit dapat tumbuh dengan optimal dan terhindar dari serangan
hama atau penyakit. Kegiatan sanitasi meliputi penyiangan rumput-rumput liar atau
gulma yang tumbuh disekitar bibit, di lakukan dengan cara manual yaitu mencabuti
satu persatu gulma yang tumbuh di sekitar bibit kemudian di buang, selain
membersihkan bedengan juga di lakukan pembersihan lokasi di sekitar bibit dan
kegiatan ini di lakukan secara rutin sampai bibit cabe rawit siap untuk di
pindahkan ke lapang. Membersihkan gulma dengan rutin itu harus
dilakukan karena liarnya tanaman lain di sekitar pembibitan bisa menimbulkan
sarang Hama dan Penyakit.

Gambar
4 .Membersihkan Gulma
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil dan pembahasan kuliah kerja
profesi
Hasil
pelaksanaan kuliah kerja profesi pada pembibitan yang di lakukan di kelompok
tani Sumber Mulya Larangan Perreng Pragaan Sumenep meliputi pembibitan cabe
rawit dengan bedengan langsung ke lahan yang sudah di siapkan. Bahan bibit cabe
rawit yang ada di kelompok tani Sumber Mulya menggunakan bibit milik sendiri
yang di ambil dari buah cabe rawit yang benar-benar tua sekitar umur 6 bulan, warna
merah dan tidak terserang hama atau penyakit dalam arti cabe rawit bagus sehat
dan berkualitas. Kemudian di petik dan dikeringkan atau di jemur di panas matahari
sampai kering biar tahan penyimpanannya,setelah di jemur dalam waktu satu hari
ujung buah cabai di buang agar kualitas pertumbuhan seragam. setelah kering di remas sampai kulit cabe
hancur. Setelah hancur untuk membersihkan kulit perlu kipas angin yaitu di
tiupkan ke angin kipas.
Media
yang cocok untuk pembibitan cabe rawit yang tanahnya datar dan pengairan baik
adapun media yang digunakan pada pembibitan cabe rawit di kelompok tani
Sumber Mulya, yaitu dengan cara lahan di
olah sampai tiga kali pengolahan, pertama lahan di olah dengan menggunakan
cangkul atau tanah di balik sampai kedalaman 15-20 cm, yang kedua tanah yang
sudah di balik di gulut atau di bentuk bedengan dengan panjang 4 m dan tinggi
25 cm, pengolahan lahan tersebut langsung di beri pupuk dasar yaitu campuran
pupuk Npk yang di campur dengan pupuk
kandang (kotoran sapi) dengan ukuran 1:10 dan kemudian campuran pupuk tersebut
di tabur atas permukaan bedengan secara merata.
Penyemaian
bibit cabai rawit yang di lakukan oleh kelompok tani Sumber Mulya di lakukan
dengan cara mencampuri benih dengan pasir agar benih yang di tebar dapat merata
di seluruh bagian permukaan bedengan yang sudah di siapkan, setelah benih
ditebar dalakukan penyiraman dengan sangat hati- hati karena jika di siram
terlalu deras bibit cabai rawit akan bertumpuk-tumpuk, untuk menghindari hal
tersebut maka cara tersebut adalah cara yang sangat segnifikan di dalam
melakukan pembibitan cabe rawit, bibit cabai rawit akan tumbuh antara 4-6 hari.
Pemeliharaan
benih cabe rawit dilakukan secara rutin dengan di lakukan penyiraman dua kali
dalam sehari yaitu pagi dan sore hari dengan kebutuhan air tergantung pada suhu
lingkungan,pemupukan pada bibit cabai rawit yang ada di kelompok tani Sumber
Mulya di lakukan setiap seminggu sekali dengan takaran 250/ 20 liter air.
Pengendalian
Hama dan Penyakit yang menyerang bibit cabai rawit di lakukan seminggu sekali
yaitu di lakukan pada sore hari sebelum
di lakukan penyiraman.Pengendalian pembibitan cabe rawit yang di lakukan
kelompok tani Sumber Mulya mulai menunjukkan gejala serangan hama pada umur 21
hari di antaranya hama pemotong batang (Jangkrik) pengendalian hama pemotong (
Jangkrik ) ini harus di lakukan dengan mekanik atau secara manual yaitu di cari
sarangnya apabila sudah ketemu Jangkrik tersebut di bunuh, biasanya Jangkrik
bersembunyi di lubang tanah maka sulit di kendalikan dengan cara meracuni.
Pengendalian Kutu Putih Kelompok tani Sumber Mulya melakukan penyemprotan
Insektisida Decis dengan dosis sesuai anjuran dan dilakukan setiap seminggu
sekali apabila ada gejala yang menunjukkan adanya serangan hama atau penyakit
pada bibit tersebut.
Kegiatan sanitasi dengan mencabut
rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar bibit tanaman cabai rawit, bertujuan
agar tanaman bibit tersebut dapat terhindar dari hama dan penyakit, karena
tumbuh-tumbuhan liar tersebut adalah tempat bersarangnya hama atau penyakit,
apa bila sanitasi di lakukan secara rutin dapat di pastikan kemungkinan
terserangnya hama atau penyakit sangat sedikit dan bibit cabai rawit dapat
tumbuh dengan baik.
VI. KESIMPULAN
DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Dari hasil Kuliah Kerja Profesi (KKP) di kelompok
tani Sumber Mulya yang dilakukan dapat di
simpulkan bahwa pembibitan Cabai Rawit meliputi:
1. Pengolahan lahan atau petaan dengan cara di traktor setelah di traktor pembuatan bedengan
dengan cara di cangkul.
2. Benih
cabai rawit di ambil dari buah
cabai hasil budidaya sendiri yang memang di persiapkan untuk benih atau benar-benar
tua, merah dan bebas dari serangan hama dan penyakit.
3. Pemupukan di lakukan setiap minggu setelah bibit tumbuh berumur 1 minggu, yaitu pupuk
NPK dengan takaran 250 g/ 20 liter air.
4. Pemeliharaan
pembibitan di lakukan secara intensif meliputi, penyiraman,
pemupukan, penyemprotan hama penyakit dan sanitasi bibit.
B.
Saran
Setelah melaksanakan
Kuliah Kerja Profesi di kelompok tani Sumber Mulya dapat memberikan saran yaitu selalu meningkatkan aktifitas dalam
melakukan pembibitan Cabai Rawit secara berkualitas tinggi atau unggul, karena Cabai
Rawit banyak diminati masyarakat luas serta mengandung nilai ekonomi atau harga
jual tinggi.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonym, 2010. Cara Membuat Bibit Cabai Rawit.Jakarta. Hal 4.
(http://
Ic.bppt.go.id/iptek/index.php. di akses 16 desember 2012 )
Anonym,
2009. Budidaya Dan Pasca Panen Cabe
Rawit, Sumatra Selatan. Hal 4.
(http://antako.go.id/iptek/index.php. di akses 28 desember 2012)
Anonym, 2012.Cabe,PT.Antako Wijaya,Palembang. Hal 3.
(http://antako.go.id/iptek/index.php. di akses 28 desember 2012)
Haryato.
1998. Bertanam Cabai Rawit Dalam
Pot.Kanisius, Jakarta – 48 hal.
Kurnianti,
N.2010. Hama Penyakit. Solo – 25 hal.
Mashud,
E. 2004. Pembibitan Cabai Berkualitas.
Sinar Baru, Jakarta – 72 hal.
Pitoyo, S.
2007. Teknik Budidaya Tanaman Cabai Di Polybag. Sinar Baru,jakarta – 61 hal.
Prajnata, F.
1998. Mengatasi Permasalahan Bertanam
Cabai. Penebaran Swadaya, Jakarta - 88 hal.
Prihmantoro,
H.1995. Bertanam Cabai Pada Musim
Kemarau.Kanisius. Yogyakarta – 74 hal.
Semangun.
1993. Penyedian Bibit Cabai Rawit di
Polibag, Kanisius. Bandung – 53 hal.
Wulandari, W.
2012. Penyuluh Pertanian Wilayah Krja Taliwan. Sumbawa Barat – 20 hal.
LAMPIRAN
Tabel
Lampiran 1 : Data Bulan Basah, Data Bulan Sedang,
Data Bulan Kering Berdasarkan Data Curah Hujan Periode 2002-2006
|
TAHUN
|
BULAN BASAH
|
BULAN SEDANG
|
BULAN KERING
|
|
2002
|
3
|
1
|
8
|
|
2003
|
5
|
2
|
5
|
|
2004
|
5
|
1
|
6
|
|
2005
|
5
|
1
|
6
|
|
2006
|
6
|
0
|
6
|
|
|
|
|
|
|
Total
|
24
|
5
|
31
|
|
Rata-Rata
|
4.8
|
1
|
6.2
|
Keterangan :
1. Bulan Basah : Curah Hujan > 100 mm
2. Bulan Sedang : Curah Hujan > 60-100 mm
3. Bulan Kering : Curah Hujan < 60 mm
Table
Lampiran 2. Klasifikasi Iklim menurut Schimidt dan Ferguson (Arifin,1988)
|
Type
iklim
|
Nilai
Q ratio (%)
|
Keadaan
daerah
|
|
A
|
0-14,3
|
Sangat basah
|
|
B
|
14,3-33,33
|
Basah
|
|
C
|
33,33-60
|
Agak
basah
|
|
D
|
60-100
|
Sedang
|
|
E
|
100-167
|
Agak
kering
|
|
F
|
167-300
|
Kering
|
|
G
|
300-700
|
Sangat
kering
|
|
H
|
>700
|
Luar
biasa kering
|
Berdasarkan table di atas di ketahui rata – rata basah di
upt pertanian pangan kabupaten sumenep selama 5 tahun antara tahun 2002 – 2006
adalah 6 bulan rata-rata bulan kering adalah 1, 8 sehingga tipe iklim dapat di
ketehui :
Rumus Q ratio:
Q ratio = 
=
= 63,3 %
Penghitungan di atas menunjukkan tipe iklim D yaitu daerah
dengan iklim sedang dengan nilai Qratio
= 63,3 % .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar